Juli hingga Oktober adalah jadwal kunjungan tertinggi wisatawan, utamanya yang datang ke
Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.
Nah setiap September Oktober saban tahun digelar festival Nusa Penida, sebagai penunjang
pariwisata, sebagai bentuk media promisi wisata di pulau setempat.
Untuk Festival Nusa Penida tahun 2019 ini kembali dilaksanakan di Pelabuhan Banjar Nyuh,
Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, selama 4 hari sejak 5-8 Oktober 2019. Dengan
pentaskan 1.000 lebih Tari Rejang Renteng. Para penari ini melibatkan dari 48 desa pakraman di
Kecamatan Nusa Penida.
Pementasan 1.000 Tari Rejang Renteng rencananya akan dipentaskan pada hari kedua Festival,
yakni Minggu (6/10) nanti, di pesisir areal Pelabuhan Banjar Nyuh, Desa Ped. Dengan formasi
diawali pentas Rejang Renteng menghadap ke panggung di sisi utara. Untuk mematangkan
persiapan pentas, sebanyak 2 orang dari masing-masing desa pakraman di Kecamatan Nusa
Penida, diajak latihan bersama untuk menyeragamkan gerak di GOR Sampalan, Nusa Penida,
pada Minggu (8/9) lalu.
Dari perwakilan itu akan menyebarkan kepada para penari di desa pakraman masing-masing.
Panitia penyelenggara tetap akan menyuguhkan Tari Rejang Renteng massal saat pembukaan
Festival Nusa Penida 2019. Tarian tersebut tetap disuguhkan, meskipun adanya keputusan
bersama PHDI, Majelis Desa Adat, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali terkait larangan pementasan
tari sakral diluar kepentingan upacara agama. Karena pementasan Tari Rejang Renteng
tersebut, dimaksudkan untuk mengiringi ritual pakelem yang dilaksanakan saat pembukaan
Festival Nusa Penida. “Tarian ini disuguhkan untuk mengiringi ritual pekelem,” ujar Panitia seksi
acara Nusa Penida Festival, I Nyoman Widana, Senin (23/9).

Upacara pakelem di laut tersebut memang rutin digelar serangkaian NPF. Selain untuk
memohon keselamatan, ritual ini sebagai bentuk menghormati alam. Pihaknya ingin
menunjukan adanya ritual untuk menghormati alam, serangkaian SPF ini. “Maka sakralnya
tarian jangan hanya dilihat di mana dan jumlah penarinya, namun tujuan dari tari tersebut,”
ungkapnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Klungkung I Nengah Sukasta, mengatakan
Festival Nusa Penida tahun ini dipusatkan di Pelabuhan Banjar Nyuh, Desa Ped, Kecamatan
Nusa Penida, dilaksanakan sejak 5-8 Oktober, kolaborasi antara Tari Rejang Renteng dan Baris
Jangkang ini merupakan inovasi yang ditampilkan pada tahun ini. Sehingga pelaksanaan
festival tidak monoton. “Untuk persiapan dari festival ini terus kita matangkan,” katanya.
Sementara itu, sebanyak 1.000 penari Tari Rejang Renteng sempat dipentaskan di Catus Pata
Kota Semarapura, Klungkung, Jumat (28/4) sore . Bertepatan Hari Puputan Klungkung ke-109
dan HUT Kota Semarapura ke-25 serta Festival Semarapura ke-3. Para penari ini meruapakan
ibu-ibu dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Klungkung, guru dan masyarakat. Saat penas
mengenakan pakaian sesuai khas Tari Rejang Renteng tersebut yaitu pakaian atas atau kebaya
warna putih dan kemen (kain) warna kuning dan memakai sanggul. Durasi pementasan Tari
Rejang Renteng tersebut berlangsung singkat sekitar 15 menit dari pukul 18.20 Wita-19.35
Wita.
Tari Rejang Renteng ini merupakan tari persembahan, dalam gerakannya tidak memakai seledet
sebagai sebagai simbolik kealamian. Tari Rejang Renteng ini sempat nyaris punah, kemudian
dari tim kesenian Provinsi Bali berhasil merekonstruksi tarian tersebut di era 1990. Sehingga
ekstistensinya bisa tetap ajeg sampai sekarang. Secara simbolik tarian ini memegang
selendang saling sambung-menyambuang satu diantaranya, kemudian murwa daksina. Itu
sebagai simbol persembahan terhadap turunnya para dewa.

Sumber: Metro Bali